elegi serigala berbulu domba
Elegi Serigala Berbulu domba
Bukan suatu kebimbangan
saat banyak orang terlihat baik namun sebenarnya hanya sebuah hati hitam yang
tak memiliki belas kasihan sekalipun. Andaikan semua orang bisa mengetahui
mengapa mereka dilahirkan ke dunia ini dan untuk apa mereka diberikan fisik
tubuh sedemikian rupa, maka takkan ada konflik kejam diantaranya. Dan saat
itulah mereka berjuang mati-matian untuk mencari kebaikan masing-masing.
Aku Indah, cewek culun dan gemuk yang selalu dibully dimanapun
tempatnya. Entah mengapa tuhan menghendakiku memilki fisik sedemikian, namun
dalam benak yang ku pikirkan hanya satu ialah aku ingin membahagiakan
orang-orang sekitarku. Sekolah favorit di kota kini telah ku gait untuk
menggapai masa depanku nanti. Tak pernah tau jadi apalah nantinya yang
terpenting ayah bundaku bisa bangga padaku.
Teman satu satunya ku
miliki dan sampai saat ini masih setia denganku, dialah boneka sapi yang ku
namai “mau” itu. Nama yang sesuai dengan suara sapi kenyataan. Ku pilih boneka
sebagai sahabatku karena ia takkan menghianatiku walaupun aku sering
menyakitinya. Tak ku ragukan kesetiaannya sekalipun, dia selalu mendengar
curhatanku kapanpun dan dimanapun yang ku inginkan.
Dulu, ketika aku duduk dibangku SMP kelas 8, aku memiliki
seorang sahabat baik yang ku anggap seperti saudaraku sendiri. Namanya Uril,
dia baik, senyumannya manis dan ia selalu bersamaku kemanapun kakiku melangkah.
Sempat aku berharap bahwa dia adalah sahabat karibku tapi kehendak tuhan malah
sebaliknya. Dia justru berkhianat padaku.
Waktu itu, aku
bersamanya ketika ada kegiatan sekolah. Kami satu organisasi di sekolah. Dia
bebisik lirih padaku dia bilang jika ia
membenci salah satu dari anggota organisasi kami yang bernama Ana. Alasannya
karena sifat sombong karena keahliannya
dalam berbagai bidang akademik dan katanya juga ia pernah mendengar bahwa Ana
pernah menjelek-jelekkannya. Aku tak tahun entah itu benar apa tidak, yang
terpenting aku mempercayainya. Dan ku berpikir untuk mencoba menasihatinya perlahan bahwa yang
dilakukannya itu tidaklah
benar. Tapi sudah
berbulan-bulan ku mencobanya, namun tak kunjung membaik justu Uril semakin
benci tak karuan pada Ana.
Dan seketika malam, aku memiliki ide aneh yang akan kuusulkan
pada Uril, aku beranggapan jika aku tidak lagi dekat dengan Uril, aku bisa
mendekati Ana dan mengambil hatinya agar mau berdamai dengan Uril. Dan ku kira
itu ide yang paling tepat untuk mempersatukn mereka.
Paginya di kantin sekolah aku membicarakan usulku semalam pada
Uril. Aku berharap dia setuju.
“Ril, kamu mau nggak
pura-pura, tapi ini nggak lama kok hanya sampai aku mengetahui seluk beluk
permasalahan sebenarnya” ujarku dengan tenang tanpa ku bilang untuk apa aku
melakukannya, dan aku berbohong untukkebaikan bersama.
“emangnya apa yang akan
kamu cari, Ndah?”
“aku ingin mengetahui
mengapa Ana menjelek-jelekkanmu, aku berpura-pura berteman dengannya dan akan
ku bilang padamu jika aku mengetahui apa penyebabnya”
“oke, aku setuju dengan
idemu. Tapi kamu janji ya, harus bilang padaku”
“siap Ril”
Di hari pertama aku
berharap bias berteman dan ku tinggalkan Uril yang sedang menunggu informasi
dari ku. Hari-hari selanjutnya ku mulai tahu apa-apa tentang Ana yang
sebenarnya memiliki kepribadian baik itu. Ku kira sombong dan pembenci sifat
aslinya namun dia begitu penyayang dan murah hati. Dan begitu aku menanyakannya
tentang Uril yang pernah ia bicarakan hingga berkata seperti mencela itu, aku
sontak kaget dengan jawabannya. Ternyata Ana berkata demikian karena dulunya
Uril juga pernah menyindir habis-habis saat ada kegitan lain dalam organisasi
kami.
Aku tak tahu haruskah
ku bicarakan hal ini pada Uril atau tidak aku masih bimbang. Pyaaaarrr…, hatiku
serasa pecah seketika. Uril sahabat yang selama ini ku anggap sebagai saudara,
dia rela menyebar aib yang selama ini ku pendam dan tak seorangpun tau kecuali
dirinya. Kecewa bahkan marah kini kurasakan, begitu aku mengetahui sifat
aslinya. Seorang penikung yang hanya manis dibibir ku anggap sahabat karib.
Ahhhh,sahabat macam apa dia.
Berbulan-bulan dia tak
ku sapa, tapi lebih parahnya lagi dia sudah tak menganggapku sahabat bahkan
kontakku di media social pun dihapusnya.
Aku tak sanggup
menahannya, hingga pada suatu malam aku berjanji tak akan mau bersahabat dengan
siapapun, kecuali hanya berteman itupun ku ingin tak sedekat ketika aku bersama
Uril.
Karena hanya Tuhanlah
sahabat sejati kita yang takkan pernah rela bilang tentang apapun, tentang
bagaimanapun ketika kita beradu keluh kesah padanya
Sampai di cerita berikutnya

Komentar
Posting Komentar