selamat tinggal si manis
Selamat tinggal si manis
Halo
namaku Sofia Mutakamila, kalian bisa memanggilku dengan panggilan Sofi, Sofia
atau Kamil itu terserah kalian. Tapi, aku lebih senang kalau dipanggil dengan
panggilan Sofia.
Aku punya seorang sahabat namanya Yumna, dia itu orangnya baik, pengertian dan
sebagai tempat curhat.
Pagi ini begitu cerah, saat ingin berangkat ke sekolah, seperti biasa Yumna
datang pagi-pagi dan memanggilku,
“Sofia pergi ke sekolah sekarang yuk!” teriak Yumna dari balik pagar.
“Sofia!” teriak Yumna sekali lagi dengan suara lebih keras.
“iya tunggu sebentar” jawabku sambil memakai sepatu, setelah selesai memakai
sepatu aku langsung berlari keluar rumah, aku menaiki sepeda dan langsung
bergegas pergi ke sekolah bersama Yumna
Kriiing..!!
Kriiing…!! Bel sekolah berbunyi kencang, itu bertanda pelajaran pertama akan
segera di mulai. Aku dan Yumna bergegas berlari ke dalam kelas dan bersiap
menerima ilmu matematika dari Pak Ammar.
“assalamualaikum, anak-anak gimana kabarnya hari ini?” tanya Pak Ammar dengan
ramah.
“alhamdulillaah, baik pak” jawab anak-anak dengan semangat. Begitulah Pak
Ammar, walaupun Pak Ammar bukan wali kelasku, tapi aku dan teman-teman yang
lain menyukai beliau, Pak Ammar termasuk guru yang rajin, ia selalu datang
pagi-pagi lebih pagi dari pada Pak Acep (OB di sekolahku).
“oke anak-anak hari ini kita akan belajar aljabar. Bapak akan menjelaskan apa
itu aljabar” lalu Pak Ammar menjelaskan dengan singkat jelas, dan mudah di
mengerti oleh murid-murid. Saat akan memberi PR, Pak Ammar menyuruhku untuk
maju ke depan kelas, saat ingin maju tiba-tiba..
Kriiing..!! Kriiing..!! Bel istirahat berbunyi sangat kencang. Aku yang sudah
berada di depan kelas, di suruh duduk kembali oleh Pak Ammar.
“baiklah anak-anak, pelajaran kita cukupkan disini, minggu depan kita akan
mempelajari Bab baru” setelah itu, Pak Ammar berjalan keluar kelas dan pergi
menuju kantor.
Aku
dan Yumna pergi berjalan keluar kelas menuju kantin. Saat sampai di kantin, aku
melihat mpok sedang menyiapkan pesanan. Kemudian
aku
dan Yumna memesan beberapa kue bolu dan secangkir teh panas.
Kriiing..!! Kriiing..!! Bel berbunyi lagi, aku dan Yumna berlari menuju kelas.
Singkat
cerita, saat aku dan Yumna sedang mengayuh sepeda menuju rumah, aku mendengar
suara kucing,
Miaaaw..
Miaaaw..
Suaranya sangat lemah, aku dan Yumna berhenti untuk mendengar suara kucing
lagi, Miaaaw..
Miaaaw..
Suaranya terdengar lagi, suara itu seperti berasal dari semak-semak di sebelah
kanan. Aku mengajak Yumna untuk mencari kucing itu dari balik semak,
“Yumna, aku rasa kucing itu ada di semak-semak sebelah situ” kataku seraya
menunjuk semak-semak.
“aku juga mendengar suara kucingnya, kita deketin yuk!” ajak Yumna semangat.
Aku
dan Yumna berjalan menuju semak-semak. Saat sudah sampai aku membuka
semak-semak itu, aku sangat kaget karena dari semak-semak itu muncullah seekor
anak kucing yang sangat lucu. Bulunya berwarna oren bergaris-garis putih, bola
matanya berwarna hijau.
“wah.. kucingnya lucu banget, kita bawa pulang yuk” ajak Yumna seraya
mengangkat kucing itu.
“boleh.., tapi nanti kucingnya ditaruh di rumahku ya..” pintaku kepada Yumna.
Yumna sedikit berpikir, tapi akhirnya ia mengiyakan juga.
Aku
dan Yumna mengayuh sepeda kembali menuju rumah. Saat sampai di depan rumah, aku
mengajak Yumna serta kucing itu masuk ke dalam rumah. Kemudian ibu datang
membawa dan membawakan air putih.
“Sofia dan Yumna sudah pulang” sambut ibuku.
“iya Bu” jawabku
“Bu, aku boleh melihara kucing nggak” pintaku.
“kucing?!” jawab ibu kaget.
“iya, kucing!”
“Tidak boleh! Ibu tidak mengizinkan karena kucing itu pembawa penyakit” kata
ibu seraya pergi mnuju kamar. Yumna tertunduk, ia trauma dengan sikap ibuku
tadi. Akhirnya aku menyerahkan kucing itu kepada Yumna, Yumna membawa pulang
kucing itu.
Ketika
Yumna sudah pergi meninggalkan rumahku, aku mendengar suara klakson mobil dan
bunyi orang tertabrak.
Buuk..!!
Aku sangat kaget, aku pun berlari ke luar rumah.
Innalillahiwainnailaihirojiun…
Aku melihat Yumna dan kucing tergeletak lemah di tengah jalan, aku kaget bukan
kepalang. Aku langsung berteriak memanggil orang-orang yang tinggal di sekitar
rumahku.
“ibu, teman-teman, senuanya cepat keluar. Ada kecelakaan disini, TOLONG..!!”
teriakku dengan sangat keras, tak terasa air mataku turun mengenai pipi. Ibu
keluar dari rumah dengan diikuti beberapa orang dewasa. Sebagian dari mereka
memanggil Ambulan. Sekitar 10 menit kemudian ambulan datang, kemudian beberapa
orang petugas rumah sakit turun, dan mengangkat Yumna bersama kucing ke dalam
mobil.
Aku
ingin sekali ikut, tapi sayang nya ibu melarangku karena akan membuat repot
orang yang bekerja di rumah sakit, tapi ibu berjanji akan mengajakku menjenguk
Yumna. Aku terus berdo’a agar Yumna dan kucing itu cepat sembuh.
Besoknya
saat ingin berangkat ke sekolah, aku merasa ada yang aneh. Aku merasa sangat
kesepian. Naik sepeda sendiri, tidak ada yang bisa diajak ngomong. Saat di
kelas aku hanya duduk sendiri, tidak ada yang bisa ditanyakan kecuali guru.
Begitu juga saat pulang sekolah, semuanya terasa sangat sepi.
Ketika
aku sudah sampai di depan rumah, aku langsung membuka pintu dan berjalan ke
kamar. Tiba-tiba ibu datang membawa Telepon rumah.
“Sofia, ini ada telepon dari Yumna. Kamu mau ngomong gak?” tanya ibu.
“mau, aku mau ngomong sama Yumna!” jawabku semangat. Lalu ibu memberiku telepon
itu, dan membiarkanku berbicara dengan Yumna.
“Yumna, ini aku Sofia. Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyaku membuka percakapan.
“aku baik-baik saja kok. Kucingnya juga” balas Yumna.
“oh.. ya? Sekarang kucingnya ada dimana?” tanyaku kedua kalinya.
“sekarang kucing nya sedang berada di tempat khusus perawatan hewan. Tempatnya
persis di samping rumah sakit ini” jawab Yumna.
Aku sangat senang karena Yumna sudah mulai sembuh dan bisa berbicara.
Setelah
menutup percakapan, aku meminta ibu untuk menjenguk Yumna di rumah sakit besok,
ibu mengizinkan asalkan tidak berlama-lama di rumah sakit.
Keesokan
pagi nya, aku bersiap-siap berangkat ke rumah sakit. Dengan diantar oleh ayah
Saat aku sudah sampai di rumah sakit, aku melihat Yumna sedang terbaring di
atas kasur.
“assalamualaikum” sapaku saat berada tepat di depan Yumna.
“waalaikumsalam” jawabnya
“Yumna, kamu bagaimana kabarnya sekarang?”
“baik kok. Sofia, aku punya 2 kabar. Yang pertama baik dan yang kedua buruk”
kata Yumna.
“kabar yang pertama, aku besok sudah bisa pulang. Tapi..”
“kabar yang kedua, kucing yang kita temukan sekarang sudah mati karena
kekurangan darah” tambah Yumna.
Hiks..
Hiks..
Kini aku menangis yang kedua kalinya. Setelah beberapa lama di rumah sakit, aku
berpamitan untuk pulang ke rumah. Di jalan ayah mengajakku untuk makan di kedai
es krim, disana ia berkata.
“Sofia. Di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya pasti akan meninggal. Ayah,
kamu dan semuanya pasti akan meninggal juga. Yang tidak meniggal itu adalah
Allah, ia kekal selamanya. Jadi, Sofia harus mngikhlaskan semuanya.” Jelas
ayah.
Aku mengangguk mengerti, sekarang aku sudah mengerti apa itu ikhlas. Lalu aku
mengusap mata, mencoba untuk tidak bersedih dan melupakan semua kenangan
bersama kucing itu dan Yumna. Mulai dari ditemukannya kucing itu, sampai
sekarang
Sampai ketemu cerita berikutnya
Komentar
Posting Komentar