cinta sebatas bibir
Cinta Sebatas bibir
Cinta.
Baca cinta dengan titik. Cinta itu sebenarnya tidak bermakna, cinta itu
berarti. Betul bukan? Cinta itu sungguh berarti. Sebelumnya aku berpikir bahwa
cinta itu hanya fantasi. Setelah menulis kata “cinta” maka berilah tanda titik
di depannya, karena tanpa tanda titik orang akan membacanya dengan nada
panjang, cintaaa, atau bahkan dengan nada tanya, cinta? Jadi cinta itu tidak
untuk diresapi tapi diperjuangkan hingga mendapat tanda titik, karena setelah
mendapat tanda titik kamu akan yakin bahwa itu adalah cinta.
Rapat pengarahan kegiatan Persami. Sebelumnya,
beribu-ribu maaf aku haturkan kepada Kak Sigit yang sedang mengoceh dengan nada
yang membuatku merasa sangat ngantuk sore itu. Aku sangat bersyukur rapat
pengarahan diadakan di aula bawah sekolah. Ya, namanya juga aula tempat
pertemuan, akan tetapi tempat itu lebih cocok apabila disebut dengan ruang
kosong, karena tidak ada satu pun meja atau kursi layaknya tempat pertemuan.
Ruangan itu kira-kira berukuran 10 X 5 m, yang beralaskan keramik putih polos
yang menambah kepolosan ruang itu. Aku bersyukur dengan tidak adanya meja atau
kursi di ruang itu sehingga aku dan senior-senior pramuka yang lain bisa duduk
lesehan sambil mendekap kedua kaki dan menyandarkan kepala di atas tempurung
lutut sambil memjamkan mata hingga tertidur.
“Wassalammu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Salam pramuka!”
Jawaban salam dari anak-anak senior mengagetkanku. Aku langsung mengangkat
kepala dan melihat di sekelilingku. Anak-anak senior masih duduk manis, Kak
Sigit dan Kak Arik sudah ke luar ruangan. Ari, ketua pramuka sibuk
membagi-bagikan kertas yang entahlah untuk apa.
“Ini, nanti kamu tulis nama junior kelas 7G yang ikut persami. Tapi inget
junior cowok, oke?” kata Ari
“Oh, sip deh,” jawabku dengan santai
“Mereka tanggung jawabmu,” lanjutnya sambil berlalu
“Huh! Ini repotnya jadi sekretariat persami,
disuruh-suruh. Masih mending kalo disuruh terima tamu. nah, aku malah disuruh
jagain 12 anak orang, cowok lagi.” gerutuku dalam hati.
Bulan kelihatannya masih enggan menunjukkan dirinya
malam itu. Hanya ada bintang-bintang yang menghiasi karpet hitam Sang Pencipta.
Malam itu setelah sholat maghrib berjama’ah di lapangan basket aku duduk di
pojok lapangan dekat pohon mangga. Tempat itu lebih terang dari dari
tempat-tempat lainnya, karena di dahan pohon ada lampu yang menggantung, lampu
itu sengaja dipasang di dahan untuk mengurangi jumlah tongkat pramuka yang
dipakai sebagai tiang lampu. Inilah pramuka, kreatif!
Aku duduk di pojok lapangan untuk melanjutkan
tidurku sore tadi. Anak-anak senior yang lain masih sibuk membereskan terpal
yang dipakai untuk sholat maghrib barusan. Tiba-tiba terdengar bunyi peluit Kak
Sigit yang sungguh memekikkan telinga. Aku langsung bangkit dari tempat
dudukku, anak-anak senior langsung berbaris di depan Kak Sigit. Kak Sigit
meminta sekretariat persami untuk menjaga junior-juniornya, dan memberi pengarahan
tentang kegiatan-kegiatan persami selama 2 hari 1 malam ini.
Ternyata mengatur selusin anak orang sungguh
membuat mood-ku berantakan. Terpaksa aku membentak-bentak mereka untuk
berbaris. Setelah semuanya sudah siap, upacara pembukaan persami pun dimulai.
Sebetulnya aku sangat malas mengikuti upacara, apalagi di malam hari. Kulihat
senior-senior lainnya sedang meng-absen junior-juniornya. Ya, daripada aku
mendengarkan pidato dari Kak Sigit mending aku meng-absen junior-juniorku. Aku
mengambil kertas yang diberikan Ari kepadaku waktu rapat sore tadi dari dalam
sakuku. Aku mulai meng-absen dari barisan paling belakang. Karena mood-ku yang
berantakan aku tidak mengajak bicara junior-juniorku untuk bertanya nama
mereka, aku cukup melihat namanya dari tulisan di kertas kecil yang di tempel
di dada mereka. Ya, setidaknya ini lebih membantuku untuk menghemat energi yang
terbuang sia-sia hanya untuk bertanya, “Siapa namamu?”.
Sampai di barisan paling depan jantungku seolah
berhenti berdetak melihat sebuah nama yang tertulis di kertas milik anak itu.
Nama itu, sepertinya aku pernah mendengarnya. Tapi dimana?. Aku melihat
wajahnya dengan sorotan mata heran. Nama itu? Benarkah Kamu? Kelas tujuh?
Bukannya kita seumuran?. Pertanyaan-pertanyaan tolol itu terus berputar-putar
di otakku. Aku tidak percaya dengan itu semua, termasuk orang di depanku. Ah,
waktu seakan berhenti terlalu lama, sampai-sampai aku lupa untuk menuliskan
namanya.
Setelah selesai menulis namanya dengan tangan yang
bergetar hingga membuat tulisanku semrawut aku menuju ke belakang barisan. Ku
hembuskan nafas yang sempat terhenti tadi dengan berat. Aku tak percaya dengan
peristiwa yang terjadi beberapa detik lalu. Aku memandang langit yang hanya
dihiasi oleh bintang-bintang itu, rasanya aku ingin bertanya kepada mereka, apa
betul itu Raka yang ku kenal saat kegiatan Dian Pinru dulu? Apa betul itu Raka
yang cinta mati kepada pramuka? Dan apa betul dia masih kelas tujuh? Tapi
wajahnya sangat berbeda, apa betul dia Raka?. Ku lihat namanya di kertas yang
sejak tadi kugenggam hingga terlihat lusuh. Ku eja namanya baik-baik layaknya
anak TK yang baru belajar membaca: A..wang… Sa…tri…a… E…ru… ca…RAKA! Benar dia
memang Raka, kenalanku sewaktu ikut kegiatan Dian Pinru tahunan waktu aku kelas
6 SD dulu.
Priiitt… Priitt… Priitt…! Anak-anak junior langsung
membentuk barisan melingkar setelah mendengar bunyi peluit Kak Sigit.
“Wina… sini!” terdengar suara Ari memanggilku. Dengan langkah gontai aku
menghampirinya
“Apa’an sih?” tanyaku keheranan
“Ya elah, itu.. bantuin anak-anak mindahin kayu bakar ke tengan lapangan,”
jawab Ari dengan nada seperti Mandor beneran
“I..iya deh,” sahutku dengan malas.
Huh! Akhirnya kayu bakar sudah dipindahkan semua.
Kakiku mengajakku untuk kembali ke barisan junior-juniorku. Sambil terus
mengusap tanganku yang kotor karena mengangkat kayu bakar aku bingung
mencari-cari barisan juniorku. Nah, ternyata ada di situ, aku menghampiri
mereka dan duduk di belakang mereka. Api unggun pun menyala, beruntung junior-juniorku
memilih tempat yang tepat. Oleh karenanya aku bisa menikmati hangatnya api
unggun. Aku sangat menantikan suasanya seperti ini, menyaksikan api
perlahan-lahan memakan kayu, menikmati indahnya cahaya yang dihasilkannya,
menghirup segarnya udara malam bercampur dengan bau kayu yang dibakar,
sempurna! suasana seperti ini tak akan aku jumpai dimana pun, kecuali di
pramuka.
“Ehemm..,” deheman orang di sampingku menghancurkan
lamunanku. Aku menoleh ke arahnya. Deg! Jantungku seakan-akan lari, darahku
membeku, keringat dingin keluar dari seluruh permukaan kulit, otot mataku
seakan mati hingga tak dapat menggerakkan mataku. Ah! Aku beradu mata
dengannya, tapi mata itu sungguh indah, binarnya menyejukkan jiwa, ah sejak
kapan aku jadi lebay begini.
“Heii..,” dia menyapaku
“Oh, h..hei,” jawabku salah tingkah
“Wina, kan?” lanjutnya
“Mmh, i..iya,” aku semakin salah tingkah
“Nggak usah salting gitu kali,”
“Enggak kok,” jiwa pramuka ku keluar
“Apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat, baik kok,” jawabku dengan nada datar, yang sebenarnya
untuk menyembunyikan rasa deg-degan ku
“Kenapa tadi kayak kaget gitu liat namaku?” tanyanya memulai pembicaraan
Ku biarkan pertanyaan itu menggantung di udara, aku berpikir keras untuk
menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan dia. Karena aku tidak
menemukan alasan yang logis, aku hanya bisa menggelengkan kepala dan menatap ke
atas melihat langit. Lagi-lagi nafasku terasa berat untuk dikeluarkan.
“Oiya, coba kamu lihat bintang yang yang paling redup di antara semua bintang,”
pintanya.
Aku heran mengapa dia menyuruhku melihat bintang yang redup itu, bukannya
bintang yang terang. Sudah jelas dia pasti mau meng-gombali-ku.
“Memangnya, kenapa?” aku mulai bisa mengendalikan rasa deg-deg-anku
“Itu sebagai lambang redupnya rasa cintaku ke orang lain selain dirimu, aku
menyayangimu apa kamu juga sama?” ungkapnya tanpa basa-basi sedikit pun
Aku hanya bisa membuang nafas dan mengacuhkan pernyataannya, di dalam hatiku
aku merasa heran mengapa tiba-tiba dia mengungkapkan isi hatinya, padahal kami
baru beberapa menit bertemu setelah perpisahanku dengannya yang sudah hampir 2
tahun lebih semenjak kegiatan Dian Pinru Pramuka waktu SD dulu, lagi pula
mengapa dia sungguh berani sekali menyatakan rasa sayangnya kepadaku di
kegiatan kepramukaan ini, kak Sigit melarang anak-anak pramuka untuk berpacaran
di waktu kegiatan pramuka dan juga melarang berpacaran dengan memakai baju
pramuka, menurut kak Sigit perbuatan itu sungguh menginjak-injak nama pramuka.
Aku memandangnya dengan perasaan heran sekaligus
marah dengan kelakuannya tadi yang menurutku itu tidak sopan. Kulihat binar matanya,
aku merasakan bahwa dia berkata begitu memang dari hatinya bukan sekedar ucapan
belaka. Entah mengapa rasanya aku seperti terbang di atas awan, ya maklum baru
pertama kali ada cowok yang mengungkapkan perasaannya kepadaku di suasanya yang
sungguh dramatis ini, ini bukan pertama kalinya ada cowok yang mengungkapkan
perasaan sayangnya kepadaku, sebelumnya aku pernah akan tetapi tidak seromantis
ini. Tuhan, aku harus bagaimana tidak mungkin aku membiarkan pernyataannya tadi
menggantung di udara seolah-olah aku tidak mendengarnya. Apa aku harus
menolaknya atau menerimanya? Jujur sejak pertemuan pertamaku dengan dia 2 tahun
lalu ada sebuah rasa yang tidak biasa dari hatiku terhadap dirinya, mungkin
dulu aku masih SD masih suka bermain-main dan belum mengenal cinta. Dulu
kegiatan Dian Pinru yang diadakan selama 1 hari itu terasa menyenangkan,
tadinya aku kurang suka mengikuti kegiatan itu karena aku berpikir pasti disana
banyak anak-anak yang sombong dan centil, aku jijik sama anak-anak yang seperti
itu. Akan tetapi dengan mengikuti kegiatan itu aku jadi mengenal dia bukan
hanya mengenal mungkin juga mencintainya, tidak saat itu saja sampai sekarang,
sampai kegiatan Dian Pinru itu sudah menginjak ke generasi ketiga setelah
generasi pertama yang aku ikuti perasaanku terhadap Raka tetap sama.
Aku tidak boleh ceroboh dengan keputusanku kali
ini, aku harus bijaksana terhadap perasaanku, terhadap pramuka, dan terhadap
perasaan Raka.
“Jujur aku tidak tahu mengapa rasa cinta itu hadir begitu saja dan membuatku
mengatakan bahwa aku juga menyayangimu,”
“Itu artinya kita berpacaran?” ujarnya
“Mungkin? Tapi kurasa ini mengingkari janji seorang pramuka kalau kita
beberapa menit berpacaran di kegiatan kepramukaan,”
terangku
“Lalu? Bukankah kita saling menyayangi? Mengapa kita tidak berpacaran?”
tanyanya
“Aku mau berpacaran denganmu asalkan setelah kegiatan persami ini selesai kita
tidak lagi menjalin hubungan itu, dan kita bersikap seolah-olah aku dan kamu
tidak saling mengenal sebelumnya, bagaimana?” jelasku
“Baik, aku setuju,”
Walaupun aku dan dia sudah berpacaran saat itu,
akan tetapi hubungan kami masih dingin. Setelah percakapan itu aku tidak
mengeluarkan sepatah kata pun, begitu juga dengan dia. Aku rasa bagi seorang
remaja awal seperti kami, menjalin hubungan spesial itu sangat sulit untuk
tidak gugup di awal pacaran.
Api unggun semakin redup, keadaan di sekeliling
sudah mulai gelap, aku dan dia masih duduk terpaku di tempat itu. 2 menit 3
menit 4 menit, 10 menit barulah dia memulai pembicaraan dan membuat suasana
menjadi mencair kembali setelah membeku. Dia bercerita kepadaku
pengalaman-pengalamannya sewaktu mengikuti kegiatan Dian Pinru untuk yang ke
dua kalinya sewaktu dia kelas 6 SD. Aku dan dia sebelumnya tidak tahu bahwa
kami tidak seumuran walaupun hanya berbeda 10 bulan saja, usiaku lebih tua
darinya.
Di sela-sela perbincanganku dengannya aku
mengungkapkan bahwa aku sangat kaget ketika mengetahui dia yang ternyata
bersekolah di sini yang juga sekolah tempatku menimba ilmu, selain itu aku juga
berkata kepada dirinya bahwa aku sempat tidak percaya kalau dia adalah adik
kelasku, karena sewaktu kegiatan dian pinru 2 tahun lalu, aku rasa dia seumuran
denganku dan kami sama-sama duduk di kelas 6 waktu itu.
Paginya kegiatan persami sudah usai, semalam aku
menghabiskan waktu tidur malamku untuk chatting dengan Raka. Kegiatan persami
sudah bubar anak-anak yang lain sudah pulang, akan tetapi tidak ada niatan sama
sekali dariku untuk menghampiri dia dan mengucapkan selamat tinggal, kurasa
tanpa aku harus mengucapkan selamat tinggal dia sudah tahu bahwa hubungan kita
sudah cukup sampai disini.
Dengan langkah berat aku melangkahkan kaki menuju
tempat parkir sepeda dan bergegas pulang. Di tengah perjalanan handphone-ku
berdering, rupanya ada sms dari Raka:
“Haiii!!! Thx udah ngasih sdikit rasa syngmu dan mau menerima perasaanku. Ya
wlaupun kta skrg tdk berpacrn lgi tpi ku hrp kmu tdk mnghapus nmaku di htimu.”
Aku merasa lega, ternyata keputusanku tadi malam untuk menjadi pacarnya untuk
beberapa jam saja tidak membuatnya galau seperti ABG lainnya yang baru
diputusin pacarnya langsung galau dan mungkin mau bunuh diri. Walaupun setelah
ini aku harus rela melepasmu dengan orang lain, tapi aku yakin itu sudah
jalannya. Lagi pula kami berpacaran pada saat kegiatan pramuka, jadinya kita
harus rela menyebut bahwa cintaku dengan Raka hanya sebatas patok tenda, dan
setelah tenda terbongkar… SAYONARA CINTA.

Komentar
Posting Komentar