asmara terpendam


ASMARA  TERPENDAM

Senya itu mulai menanmpakan keagunganya,cerah merona bak  pipi merah seorang gadis yang sedang tumbuh merekah nan manya di sertai ayunan buih angin semilir ombak laut pinggir pantai

Kelapa. Sore itu ada yang bergelayut di hat antara dua pilihan yang sulit.

    Bingung rasanya ketika diri ini harus memilih satu di antara ke dua sahabat, mereka adalah teman yang selalu menemaniku dan mendengarkan colotehan curhatku. Yah beginilah aku cewek pendiam, suka tertawa, dan temen temen sering bilang aku super lambat. Emang sih gitu tapi entah mengapa aku paling nggak bisa ketika disuruh cepet walaupun dalam keadaan terlambat sekalipun.

    Hari ini aku pertama kali masuk sekolah setelah libur panjang semester, dan saat itu juga aku naik ke kelas delapan. Aku duduk sebangku dengan Atin. Dia anak yang baik namun agak sedikit pemarah. Atin sering memangilku Ila. Walaupun nama panggilanku Mila tapi katanya nama itu panggilan kesayangannya kepadaku.

    “hay Tin, gimana kabarmu?” sapaku pada Atin yang sedang menarik kursi tempat duduknya untuk meletakkan tas.

     “baik Il, kamu gimana?” jawabnya.

     “eh ngomong-ngomong, kemarin liburan kemana nih?”tanyaku.

     “ nggak kemana-kemana kok, aku hanya berdiam diri di rumah”, saut Atin.

      Tiba-tiba datanglah dua teman cowokku dengan paras putih sedang berbicara dan menuju ke belakang tempa dudukku. Aku belom mengenalinya, dan mencoba menanyakan namanya pada Atin.

       Ternyata namanya adalah Khatam dan Anto. Mereka berdua kembali keluar

setelah meletakan tasnya. Sedangkan hari makin siang dan teman-teman kami mulai berdatangan ke kelas dan mencoba menyapa kami yang sedang duduk berbincang-bincang di bangku.

       Selang beberapa minggu, terlihat Atin mulai ada rasa dengan Khatam. Atin merasa bahwa Khatam salah satu ciri cowok idamannya. Ia tak tahu mengapa dia mengagumi Khatam, tapi yang pasti menurutnya Khatam sangat baik dan perhatian

        “Il aku…”, katanya yang belum sempat terselesaikan.

        “kamu kenapa Tin?” tanyaku

         “aku rasa Khatam salah satu pria idamanku” jawabnya sambil menutupi pipinya yang merah.

         “cieeee, cieee…… hayoh jangan-jangan kamu suka lagi sama khatam, heheheheh” ujaran godaanku pada Atin.

“nggak kok, nggak. Aku hanya mengaguminya, Il” saut Atin.

    Tiba-tiba bel berbunyi.

        “eh ya sudahlah, bel udah bunyi tuh ayo kita ke kantin dulu” ajakku pada Atin.

        “baiklah ayo” ucap Atin sambil tersenyum.

        Kami pun pergi ke kantin dan membeli jajan. Sampai bel masuk kami selalu bersama. Atin yang nampak memandang Khataum terlihat senyum senyum sendiri. Aku hanya bergumam dalam hati apakah itu yang dirasakan seorang yang jatuh cinta, tersenyum sendiri dan mengagumi orang yang dicintainya.

        Hingga waktu pulang dan saatnya aku berpisah dengan Atin teman sebangkuku.

        “Tin duluan yak!” ucapan perpisahanku pada Atin.

        “bye Il”balasan dari Atin.

       Nampak dari kejauhan seperti Laily. Laily ya Laily, sahabat dari SD ku dulu yang sampai sekarang selalu bersama dengan. Ia terlihat gesa-gesa menghampiriku tanpa ku ketahui apa alasannya.

          “Mila, huuuffft capek” kata Laily ,setelah berlarian hingga keringatnya bercucuran.

          “eh ada apa kamu lari-lari Lai?”, tanyaku.

          “ hehehehe… jangan khawatir Mil aku hanya…..”ucapnya tanpa diselesaikan dan ratapan yang Nampak sumringah.

          “hanya apa? Tertawa mulu kamu nih”, kataku mencemaskan Laily.

          “sudahlah Mil, ayo kita pulang” balas Laily.

        Di tengah perjalanan Laily yang sampai saat itu belom berhenti tersenyum sendiri, akhirnya dia menceritakan apa yang sekarang terjadi padanya. Dia memberitahuku bahwa dia menyukai seorang cowok. Dan tak diduga dia suka dengan cowok yang sama dengan teman sebangkuku, Atin.

       Saat itulah aku merasa bingung sahabat, aku harus mendukung yang mana agar salah satu dari mereka dapat memikat hati Khatam. Sampai beberapa hari rasa delima itu masih menggembung dihatiku, dengan masalah yang membelitku kini.

       Selang beberapa bulan kemudian, aku tak mendapati Laily merasa bahagia lagi. Kemudian aku menanyakannya pada Laily.

       “ciee… gebetannya Khatam, kenapa sih cembetut mulu’ “, tanyaku.

       “sembarangan, apa katamu? Aku, gebetannya Khatam? Hahahaha.. mimpi kaleee”, balasan Laily terlihat agak nyolot padaku.

        “ya sudah, kalo gitu. Cerita dong, Lai!, kamu kenapa sih dari tadi aku liat-liat kok banyak nglamun gitu?” kataku.

         “hem, gini Mil. Kemarin waktu aku pulang sekolah, teman-temanku mengejekku habis-habisan. Mereka mengejek tentang perasaanku pada Khatam”,jawab Laily menunjukkan bermuka muramnya.

          “itu bagus kan, justru malah niat mereka baik agar Khatam mengetahui perasaanmu padanya”, ujarku menenangkan penasaran Laily.

         “bukan itu yang membuatku bersedih” kata Laily.

         “lalu apa?”tanyaku.

          “Khatam mencela ku, katanya buat apa suka pada Laily orang dia gendut nggak punya body”curhat Laily.

           “emang ya sungguh kejam tuh anak, sabarlah Lai. Mungkin dia bukan pria yang baik untukmu”ujarku sangat emosi pada Khatam.

           “iya Mil, sungguh aku kecewa dengannya”kata Laily.

          Aku beranjak ke kelas dan berkeinginan untuk menceritakan hal ini pada Atin. Dengan begitu semua kegundahan yang selama ini terpendam terkeluarkan sudah setelah aku menceritakan semuanya pada Atin.

          “Tin, aku mau bicara denganmu, tentang kamu, Laily, dan khatam”ujarku.

          “kenapa dengan semua itu, Il?”, Tanya Atin.

          “sebenarnya Laily juga menyukai Khatam, aku tidak mengatakannya denganmu karena aku takut membuatmu sedih dan marah padaku. Ini sudah lama ku sembunyikan darimu, aku bingung dengan siapa masalah itu bisa terselesaikan. Tapi Khatam tidak menyukai Laily, malahan waktu itu dia sempat mencelanya hingga Laily sakit hati dan ingin menghilangkan rasa sukanya pada Khatam”, jelasku pada Atin.

          “tenang saja Il, aku tidak suka pada Khatam kok. Aku hanya kagum padanya, dia ku kagumi karena sifat dan kebaikannya pada kita. Tapi yang kupikirkan itu salah, ternyata Khatam yang demikian tega mencela Laily hingga begitu”, kata Atin.

          “ya sudahlah itu sudah berlalu, aku lega bias menyelesaikan semuan ini padamu”, ucapku.

“ya Il, jangan sungkan-sungkan untuk menceritakan semua masalahmu padaku. Aku siap dengerin semuanya dan jika bias akan kuberikan solusi agar masalah itu terselesaikan”ucap Atin.

          Beberapa bulan telah berlalu, dan saat itulah aku mulai merasakan kebahagian dengan dua sahabatku, Atin dan Laily. Namun, entah apa yang kurasakan kini berbanding terbalik dengan perasaan mereka berdua. Aku mulai merasakan jatuh cinta pada satu orang yang telah menyakiti kedua sahabatku. Yah siapa lagi kalo bukan Khatam.

          Aku bingung dengan semua ini, hal itu kurasakan setelah teman-teman sekelasku mengejekku dengannya. Aku dulunya enggan mendengarkan, tapi malah kini aku menyukainya. Yayaya….. emang perasaan siapa yang tau, aku mengannggapnya suatu anugrah.

           Pada saat itu, kelas kami akan mengikuti lomba kelas. Wali kelasku menyuruh Khatam dan aku untuk bersama dalam membuat suatu hasil karya yang bertema kebersihan. Aku berpikir bahwa aku akan membuat lukisan, tapi aku malu mengatakannya pada Khatam. Lau dengan bantuan Atin aku berani mengatakannya.

          “Khatam……” Atin memanggil Khatam untuk berbicara padaku.

         “heh, ada apa?”jawab Khatam.

          “Mila akan berbicara padamu” kata Atin.

          “Kha…….Kha……tam, ka….mu ma…mau nggak jika waktu, lomba na….nanti kita membuat lu….lukisan saja?” dengan tergagap-gagap aku mengatakannnya pada Khatam.

          “ya lah terserah kamu saja”jawab Khatam.

           Sungguh malunya aku, sudah sering aku bicara pada Khatam tapi baru kali ini setelah perasaan itu muncul aku jadi gagap saat berbicara dengannya.

          Dan tepat dihari perlombaan, kami dipasangkan menjadi  pasangan perwakilan kelas dalam perlombaan hasil karya bertema lingkungan. Dan sungguh terkejutnya aku, dihari itu pula Khatam mengungkapkan perasaaannya padaku dia bilang, dia menyukaiku tapi dia tidak ingin berpacaran dulu. Katanya ingin meneruskan study nya dulu. Betapa bahagianya aku mengetahui perasaannya padaku dalam waktu singkat.

Sayonara

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

selamat tinggal si manis

raspunzel

kasih tak sampai