asa yang terakir
Asa yang terakir
Tak pernah ku kira
sampai sepedih ini. Aku tahu, aku nggak
berhak untuk marah pada suatu takdir yang kini sedang terjadi dalam keluargaku.
Bayangan lalu sudah menjadi impian yang pupus sudah tanpa harapan apapun. Dan
ku yakin tuhan membuat scenario untuk kebaikan hambanya.Kisahku yang
mengharukan sunguh tak akan disangka bagi siapapun.
Alin, sapaan akrab orang
memanggilku. Terlahir sebagai anak sulung dua bersaudara. Ayah, bekerja sebagai
seorang nelayan yang tentunya memiliki penghasilan tak terlalu besar. Sedang
ibu, menjadi buruh cuci tetangga sekitaran. Kami tinggal berlima bersama nenek.
Beliau ibu dari ibuku. Aku memiliki adik yang sekarang duduk dibangku kelas dua
SD. Adik sangat beda jauh denganku. Ku katakan demikian karena adik lebih
cerewet dibandingkan aku si pendiam yang males bicara.
Sifat seperti itu membuat
nenek lebih bersimpatik padaku. aku memang pendiam jika ditanya soal masalah
pribadi. Aku bahkan tak mau jawab satu pertanyan walaupun berulang kali
ditanyakan. Dan tak hayal aku langsung menghindar atau bahkan lari jika melihat
ayah atau ibu akan mengajukan pertanyaan
tertentu padaku.
Setiap malam saat akan tidur, aku menuju ke kamar nenek,
seperti biasa aku meminta nenek untuk membelai keningku. Kebiasaan yang sampai
kini tak bisa ku hilangkan itu tak pernah membuat nenek mengeluh. Dibelai
keningku oleh nenek penuh kasih sayang lembut darinya. Tak jarang beliau
menceritakan kisah kecil dulu. Nenek bercerita hingga aku tertidur pulas.
Namun pada malam itu, nenek tak
bercerita lagi tetapi ia menitip pesan singkat yang tak pernah kusangka.
“cu, jika besar nanti
pilihlah apa yang membuatmu merasa nyaman. Dalam arti, kamu juga harus selalu
menyukainya” ulas singkat nenek.
Aku menjawab lirih dengan mata yang berkedip-kedip.
“hem nek nek aku kan masih
kecil, lagi pula kata ibu aku masih bau kencur” jawab dariku.
“nenek kan hanya mewanti
wantimu, supaya nggak salah jalan bahkan sampai melupakan Allah karena urusan
dunia” ujar nenek dengan nada agak keras.
“baiklah nek” kataku.
Belaian nenek membuatku tertidur pulas hingga tak sadar diri.
Alam bawah sadar membawaku untuk bermimpi. Yah mimpi, suatu bunga tidur yang
keberadaan ceritanya diyakini banyak
masyarakat. Ada yang mengartikan mimpi dalam kebaikan atau bahkan juga membawa mala petaka. Mimpi yang
belum tentu diyakini kebenarannya itu sudah pernah ditafsir oleh beberapa ahli
dan pada kenyataanya itu benar terjadi. Entah percaya atau tidak itu tergantung
keyakinan masing-masing orang.
Malam itu, aku bermimpi
gigi depanku copot. Sebelumnya aku tak begitu percaya jika mimpi
tersebut memiliki makna yang sangat
dalam. Namun, saat aku tak sengaja membaca salah satu media social aku
terhanyut dan ingin teriak menangis sekencang mungkin. Benak ku berfikir
mungkinkah hal tersebut benar adanya. Lalu ku coba tanyakan pada tetangga
samping rumah yang tak lain adalah paman Ali. Paman adalah kakak sulung dari
saudara ibu.
“paman, beberapa hari yang
lalu aku bermimpi. Aku bermimpi jika gigi depan milikku copot” ujarku tentang
mimpi tersebut.
“benarkah apa katamu,
lin?” Tanya paman.
“sungguh paman, kalau
boleh tau apakah arti dari mimpi tersebut?” kataku.
“aku pernah membaca pada
buku tentang tafsir mimpi, di dalamnya ada berbagai macam mimpi yang diyakini
kebenarannya, menurut buku tersebut mimpimu tersebut memiliki arti bahwa akan
ada orang di antara kerabat dekatmu yang akan meningal dunia” jawab paman.
“hah, paman yakin dengan
jawaban tersebut?” tanya ku.
“entahlah, itu kan hanya
buku. Benar atau tidaknya tergantung takdir yang maha kuasa nantinya” kata
paman penuh ketenangan.
Satu bulan pun berlalu, seperti halnya hari-hari biasa aku
belajar di waktu malam. Tak satupun tanda-tanda akan adanya masalah tertentu
dalam malam itu. Ibu bapakku menonton televisi
bersama adek di ruang keluarga. Sedangkan nenek tidur di kamarnya.
Kufokuskan belajar karena akan ada ujian akhir beberapa minggu lagi.
Tok, tok, tok. Ketuk pintu
menggedur terdengar hingga dalam bilik
kamarku. Entah siapa yang membukanya akupun tak tau. Ku dengar ternyata saudara
bungsu ibu yang biasa ku panggil pacil itu. Pacil berarti paman kecil, ku
panggil demikian karena dia masih sangat muda dan baru memiliki satu anak
laki-laki bernama A’im.
“mbak, ibu mana?” tanya
pacil pada ibu.
“ibu di kamar dek” jawab
ibu.
Hentakkan kaki paman
menuju kamar nenek. Sesampainya di kamar,
paman membicarakan suatu hal dengan nenek. Aku tak mengerti apa yang dibicarakannya karena
jarak dengan ruang belajarku agak jauh.
Dua jam berlalu, sampai akhirnya
ku pejamkan mata yang mulai terasa lelah
setelah beberapa mata pelajaran ku baca. Aku tertidur pada bangku belajar ku,
dan selang beberapa menit ayah membangunkanku lalu menyuruhku untuk pindah ke
kamar nenek. Tak terlihat Pacil ada di
sana, mungkin ia udah pulang. Berbaringlah ku di tempat tidur namun tak ku
dapatkan belai lembut tangan nenek, tanpa ku hiraukan aku kembali melanjutkan
tidurku.
“heh, heh, heh…… “keluh nenek.
Terkejut ku melihat nenek yang tiba-tiba tak bisa bergerak dan
bicarapun tak sejelas semalam.
“ibu…… bapak, ibu….
Bapakk..” teriak kencang dariku.
“ada apa sih?” jawab ayah
yang tanpa mengerti kejadian apa yang sedang terjadi.
“sini! Cepetan,,” kembali
ku berteriak.
Ayah dan ibu berlarian, dan saat mereka melihat tubuh nenek
yang sedemikian rupa mereka langsung histeris menangis.
“ini kenapa, bisa terjadi
bu?” tanya ibu pada nenek
Ibu menangis dan kepanikan
dengan keadaan kini. Ayah mengusulkan untuk memanggil paman Ali agar segera
membawa nenek ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Ayah lalu
menyuruhku agar memanggilnya.
Bruk..brukk.. suara hentak kaki ku yang berlarian untuk
memanggil paman. Setibanya di rumah paman yang saat itu masih terkunci rapat,
terpaksa aku harus lewat samping rumahnya. Ku gedor kencang jendela kamar paman
dan bibi.
“paman paman cepatlah
bangun” panggilku sambil mengetuk jendela.
Begitu lama aku mengetuk
jendelanya dan ku ingat bahwa mereka pergi berlibur ke Jakarta untuk berwisata.
Dan ku kembali ke rumah, terlihat ibu yang bercucuran air mata, kemudian ku
lihat nenek yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku menangis menyesalinya, mengapa
aku yang tidur di sampingnya tidak menyadari bahwa nenek dalam keadaan kritis
saat itu. Dan lebih menyesalnya lagi karena akulah yang memimpikan suatu hal
yang tak pernah ku ketahui dari mana asal mimpi tersebut.
Ikuti
cerita berikutnya......

Komentar
Posting Komentar